🌺Candramawa

BRAKKK... (suara buku jatuh)

Seorang gadis membungkukkan badannya di hadapan ku "Gimana sih mbak main

tabrak aja saya kan buru-buru, ngerepotin aja" (jawabku dengan emosi)

Gadis itu terus membungkukkan badannya, lalu aku mendorongnya dan membuatnya terjatuh.

Itu adalah pertamakalinya aku melihat mu, gadis dengan rambut hitam panjang memakai kacamata. Aku telah menyakiti gadis yang membuat ku menyesal seumuri Hdup. Maafkan aku Rui.

Namaku Aki Kazuo sejujurnya aku benci menjadi pemeran ini, tapi akan ku ceritakan

sifat gelapku yang menjadi awal badai berombak.

Pagi hari aku membuka mataku, bersiap untuk pergi ke sekolah. Saat diperjalanan aku

melihat seekor kupu-kupu tertabrak. Aku mendekati kupu-kupu itu

"Kasiannya kamuu..." (Dengan suara sedih)

Lalu aku mengambil kupu-kupu itu, saat aku mengelus sayapnya tetiba kupu-kupu itu

terbang kembali dan membuatku terkejut. Seperti melihat matahari dimalam hari.

Disekolah aku memiliki geng, kumpulan beberapa anak nakal. Sayangnya akulah

ketuanya. Ketua banteng merah yang suka marah.

TINGTONGTINGTONG...(Bel masuk kelas)

Aku duduk dibangku belakang, kursi depanku kosong karena tidak ada yang mau

duduk disitu.

"Selamat pagi anak-anak, hari ini kalian akan kedatangan siswa baru, jadi tolong jaga

sikap" (Ucap pak Suya)

Tak lama ada suara langkah kaki dari luar kelas, seperti seseorang berjalan diatas

awan. Aku melihat gadis yang cantik, lalu aku tersadar bahwa gadis itu yang pernah

aku dorong

"Nakk perkenalkan namamu!" (Seru Pak Suya) 

Namun tak ada jawaban apapun dari gadis itu, tiba-tiba Pak Suya menepuk pundak

gadis itu. Gadis itu lasung sadar lalu ia mengeluarkan sebuah buku dan polpen.

Seepertinya ingin menulis sesuatu, setelah menulis ia menunjukanya kepada kami dan

tulisan itu berisi

"Salam kenal namaku Rui, aku tuli dan bisu. Semoga kalian bisa akrab denganku"

Seketika aku menyadari mengapa gadis itu tidak pernah berbicara dan terus

membungkukkan badannya.

"Rui, kamu bisa duduk didepan Aki"

Gadis itu mulai berjalan kearahku, entah mengapa aku masih emosi kepadanya.

Banyak anak-anak lain yang mulai berkenalan dengannya, ternyata anak itu sangat

baik.

Kemudian Pak Suya memulai kelas, semua siswa disuruh membaca satu per satu.

"Ngengngangngungngangungingung"

Saat Rui mulai membaca tiba-tiba terdengat suara itu, suara yang mlengking dan

buruk. Aku ingin tertawa saat mendengarnya. Sebenarnya bukan hanya aku saja yang

ingin tertawa, namun hampir semua anak juga menertawakannya.

TINGTONGTINGTONG....(Suara bel istirahat)

Rui mulai mendekatiku, ia memberikan ku bekal makanannya. Tentu saja aku

menolak nya dengan melempar makanan itu

"Apaan sih aku gamau ya makanan dari si bisu" (Jawabku dengan bentak)

Rui terus memaksaku untuk menerimanya

"Udah dibilang gamauuu!!"

BRAKKKK (suara bekal jatuh)

Tiba-tiba Rui mendekati tumpahan itu dan mulai memakannya

"Jangan dimakan dasar bisu!" (Sambil mendorong pundaknya)

Namun usahaku untuk mencegahnya tertolak mentah-mentah Rui tetap memakan

makanan itu dengan lahap.

Bel masuk pun terdengar, kelasku akan mengadakan lomba bernyanyi bersama. Kami

menyanyi dengan lembut tetapi berbeda dengan Rui, suaranya sangat buruk.

"Kamu tu gapantas ikut paduan suara ini, dasar si bisu!" (Ucapku dengan bentak) 

“Sudahlah Aki, kasian Rui” (ucap salah satu temanku)

“Ahhh berisik kalian tu, Rui bisa membuat kelas kita kalah suara bisu nggak

dibutuhkan disini” (Jawabku)

TINGTONGTINGTONG... (Suara bel)

Semua siswa mulai kembali kekelas, saat tengah duduk dikursi aku melihat ada benda

ditelinga Rui. Aku dan teman yang lain iseng menarik benda itu dari telinganya.

"Aaaaaaaa" (Suara Rui menjerit)

Tiba-tiba darah mulai menetes dari kupingnya, darah yang sangat banyak. Tak lama,

Pak Suya datang kekelas dan menannyai siapa yang melalukan ini.

"Siapa yang melakukan ini?"

Teman-teman sontak melihat ke arahku

"Bukan hanya saya pak tapi semua siswa juga membulinya" (Jawabku dengan

ketakutan)

"Tega sekali kamu menuduh kami Aki, dasar laki-laki gatau malu! " (Ucap salah

seorang temanku)

Lalu aku pun dibawa ke ruang BK, saat menunggu ibuku datang aku diberi bimbingan

oleh Pak Suya

"Aki kamu tahu nggak, sebenarnya Rui bisa mendengar semua omongan orang

dengan alat itu. Tapi dia berpura-pura tidak mendengar agar ia bisa mendengarkan

dengan jujur suara teman-temannya" (Ucap Pak Suya)

"Aku tidak tahu pak, bukan hanya aku yang membulinya tapi semua siswa juga

seperti itu kepadanya" (Jawabku dengan ketakutan)

Aku mulai merasa bersalah kepada Rui. Tak kusangka gadis tuli itu bisa mendengarku.

Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaannya. Aku sangat ingin meminta

maaf kepadanya.

Tak lama ibuku datang dan langsung menghampiri ku

PRAKKKKK (Suara tamparan)

"Kamu ya dasar anak nakal, kamu nggak mikirin perasaan ibumu?" (Ucap ibuku

dengan marah)

"Maaf ibu" (Jawabku dengan lirih) 

"Habisni kamu ikut ibu" (Ucap ibu)

Lalu aku dibawa ibu menaiki mobil. Aku tidak tahu kami akan kemana, didalam

mobil aku melihat ibu meneteskan air mata, aku tak kuat melihatnya. Seperti cahaya

matahari yang terbelah, hatiku hancur.

Sampailah kami disebuah rumah sederhana, rumah dengan beralaskan tanah merah.

Aku menunggu ibuku didalam mobil, terlihat seorang wanita keluar dari dalam rumah.

Aku melihat ibuku berulang kali membungkukkan badannya untuk meminta maaf.

Namun pandangan seram wanita itu menuju diriku. Entah mengapa aku ingin keluar

dari mobil, aku pun berjalan menuju sungai.

Aku melihat Rui yang sedang memberi makan ikan. Aku mulai mendekatinya dan Rui

tersadar akan keberadaanku. Dia takut melihatku sepertinya ia ingin pergi dari situ.

Aku langsung memegang tangannya dan membungkukkan badanku untuk meminta

maaf. Tangan Rui terasa dingin dan bergetar sepertinya dia sangat takut kepadaku.

Tetiba Rui mulai berbicara, tentu saja dengan suara yang tidak jelas. Entah mengapa

aku bisa mengerti perkataan nya waktu itu, dengan suara tak jelas dia berkata

"Mau nggak jadi temanku?"

Sontak aku menangis bahagia mendengarnya

Rui tersenyum kearahku namun senyuman itu seperti tersirat sebuat kata "Suka kamu"

Tiba-tiba seorang wanita menarik tangan Rui dari genggamanku dan membawa Rui

pergi. Setelah pertemuan itu aku tidak pernah melihat Rui lagi, aku sangat ingin

bermain bersamanya.

Keesokan hari, aku pergi kesekolah namun semua terasa berbeda.

“HAHAA ITU SI TUKANG BULYY…”

“KASIAN SEKALI SIH KAMU.. GAPUNYA TEMEN YAA…”

PRAKKKK (suara buku jatuh)

“TUKANG BULY NGAPAIN SEKOLAH, DASAR GATAHU MALU”

Aku berlari menuju toilet, mata airku tak bisa ku tutupi lagi. Di kamar mandi aku

menangis ketakutan dengan rasa menyakitkan. Aku telah jatuh ke dalam kegelapan.

Aku kembali menuju kelas, hal ini membuat hatiku hancur dan sangat bersalah kepada Rui. 

“EHHH PAPANNNYA HAPUSS TUUU ADA SI BULYY”

“KALIAN NGAPAIN SIHHHHH!” (tanyaku dengan bentak dan sedih)

“EEHH SI BULY MARAH NIIHH”

“DASAR SI BULY GATAHU MALU, MAU MARAH? HAHAA LUCU”

Setelah mendengar ejekan itu, aku berlari keluar pagar sekolah. Air mataku mengalir

deras, hatiku hancur berkeping-keping. Rasa salah yang selalu menghantuiku

diselimuti rasa marahku kepada teman-temanku. Dengan pikiran kacauku tiba-tiba

aku terjatuh dan pandanganku menjadi gelap.

“AIIIIIIIIIIAIIIIIIKKK”

“OHH TIDAK AKU MENDENGARNYA LAGI, SEMOGA SAJA INI BUKAN

MIMPI” (ucapku dalam hati)

“ANGUNNNNNNNN AIIKKKKK!”

Mataku mulai terbuka, pandangan yang buram mulai terlihat jelas. Ohh tentu saja aku

melihat mu kembali. Entah mengapa aku memeluk wanita disampingku, inilah wanita

yang ku rindukan. Cahaya yang kutunggu telah datang menggenggam tanganku.

“MAAFKAN AKU RUI AKU SANGAT MERINDUKANMU” (ucap lirihku) 

Komentar